“Memoles Kepribadian di Balik Akun Social Media”
Fenomena perkembangan teknologi modern yang berkembang pesat dan tidak bisa dibendung arah pergerakannya membuat seseorang yang belum siap akan pertumbuhan menjadi mentah dalam mencerna teknologi. Teknologi memudahkan seseorang untuk berkembang dalam menjalankan pola hidup yang sebelumnya atau lebih tepatnya cara baru yang belum pernah dilakukan. Seseorang lebih mudah mendapatkan informasi dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemudahan kehidupan sehari-hari. Teknologi memang membantu seseorang dalam mengerjakan segala macam hal, akan tetapi sudah benarkah pola penggunaan teknologi tersebut. Tidak semua orang mampu memanfaatkan teknologi sesuai dengan kegunaan dan kemanfaatannya. Nahhh ini dia yang gw maksud mentah dalam mencerna perkembangan teknologi, dari mental dan pengetahuan seseorang belum siap dengan pemanfaatannya. Efek yang diberikan dari mentahnya mencerna perkembangan teknologi bisa merubah pola pikir dan karakter seseorang lohh. Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang gw alamin aja sesuai dengan kejadian yang terjadi di kehidupan gw sehari-hari.
Generasi terupgrade
abad ini (entah Namanya apa) memanfaatkan teknologi untuk berbagai macam hal
yang sebelumnya tidak pernah terprediksi (jaya jaya jaya heee). Pemanfaatan
teknologi pada Generasi X lebih ke arah Social Media untuk upgrade
informasi terbaru dan tren model terbaru. social media pada Generasi X dimanfaatkan
sebagai wadah untuk penyalur bakat, mencari pendapatan, mencari ketenaran, menjadi
pembunuh bayaran kolom komentar heee (bercanda) ya pokoknya masih banyak hal
lain yang dimanfaatkan dari media tersebut. Kalau dilihat dari manfaatnya sendiri
sebenarnya social media lebih ke arah positif atau negative ya? (Ya tergantung
kita sendiri memanfaatkannya seperti apa). Salah dalam penggunaan bisa jadi toxic
buat diri juga atau bahkan buat orang lain juga, makanya kenapa gw tadi bilang
pembunuh kolom komentar heee.
Pembahasan
yang cukup menarik menurut gw pribadi terkait pola kepribadian seseorang dari
perkembangan teknologi terutama dilihat dari social media. Pola pikir seseorang
dengan sangat mudah kita nilai dan kenali dari berbagai macam hal yang mereka
unggah untuk dilihat publik. Apalagi orang-orang yang update diri mereka tanpa berpikir
dua kali dari sudut pandang orang lain respon seperti apa, resiko buat diri
sendiri, bahkan kejahatan dari orang lain bisa juga memanfaatkan itu. Amit-amit
sebenernya kalau hal-hal itu terjadi (tapi gw sendiri pernah alami itu)
tangan-tangan tak bertanggung jawab merusak akun orang lain. Tapi yang gw bahas
sekarang lebih ke arah seseorang yang menurut gw munurun tingkat kepercayaan
diri di social media. Lohhh kok bisa??? Bukannya social media mereka
mengunggah hal-hal terbaik buat dijadikan momen baik mereka?. Nah justru itu
yang jadi problem menurut gw heee, jadi pertanyaan juga sebenernya apa betul
seperti itu.
Social
media digunakan seseorang sejauh ini yang gw lihat hanya dijadikan alat
untuk memoles kepribadian seseorang. Orang lain bisa melihat keseharian dan
kepribadian kita dari apa yang kita sajikan. Apalagi di Negara kita tercinta
ini, orang masih gila akan sanjungan, pengakuan, dan bahkan jadi panutan. Orang
berbondong-bondong membranding diri sendiri untuk kelihatan perfect
dihadapan semua orang. Membungkus kebusukan dalam wadah bertabur emas permata
untuk melihat cover luar yang mewah. Pada akhirnya ini yang merubah pola pikir
seseorang dalam menyikapi adanya perkembangan teknologi. Orang tidak percaya
diri Ketika lagi jatuh, orang ingin selalu dilihat dirinya berada di atas, Ketika
diatas orang ingin lebih tinggi lagi, dan yang paling parah lagi menjadikan
orang lain menjadi tolak ukur buat diri sendiri. Kalau stadiumnya udah memakai
tolak ukur udah stadium akhir yang harus diobati dan dibasmi deh. Padahal
tingkat hidup seseorang berbeda-beda dan tolak ukur diri tergantung dirinya,
kalau jadi acuan baik buat bisa seperti itu ok saja tapi kalau buat
mengkelompok-kelompokkan berdasarkan acuan nah itu yang udah menyimpang.
Fenomena memoles
kepribadian di social media sudah tidak asing lagi, kita sebenernya bisa
lebih mudah buat tau hal itu. Akan tetapi kita sendiripun akan lebih kesulitan
untuk menilai seseornag yang baru kita kenal. Seperti yang gw bilang tadi di dalam
busuk tetapi di cover emas permata heee cantik diluar tapi racun didalam. Kenapa
seseorang tidak percaya diri dengan diri sendiri ya? Bukannya setiap orang
diberikan kelebihan yang bisa mereka eksplore masing-masing. Ohh mungkin mereka
melihat seseorang dengan mudah mendapatkan sesuatu, bisa juga menjadikan orang
lain tolak ukur patokan sukses seperti itu atau ada banyak hal lain lagi.
Banyak ternyata faktor yang bisa disebabkan dari hal tersebut, sehingga mereka
tidak bisa menjadi percaya diri dengan diri sendiri. Pada akhirnya mereka memoles
diri dengan kepalsuan, kebohongan, dan kerendahahan moral untuk mendapatkan respect
dari orang lain. Merasa malu Ketika gagal, tidak berkembang, tidak bisa
mencapai seperti orang lain (ya faktor tolak ukur tadi), akhirnya membohongi
diri demi apresiasi dari orang lain. Turunnya tingkat kepercayaan diri
seseorang ini muncul Ketika dirinya sendiri tidak bisa kontrol apa yang ada
dalam diri. Jika hal ini terjadi bergulir dan menggulung maka krisis akan
mental seseorang menjadi lemah dan mudah untuk terombang-ambing.
Tulisan ini
hanya berdasarkan pengalaman yang gw rasain sendiri bukan menyinggung siapapun
hanya keresahaan yang gw rasa saja. Menurut gw ini hal yang penting banget buat
generasi muda terutama, biar bisa dijadikan pembelajaran dengan menyikapi perkembangan
teknologi. Jangan sampai justru menjadi ranjau buat kita yang bisa buat kemunduran
moral, penurunan kepercayaan diri dan perubahan pola pikir yang negatif. Bahaya
sekali jika ini terjadi untuk generasi penerus, sekarang saja kalau kita lihat
gampang sekali orang di adu domba kubu A kubu B. Pembunuh kolom komentar dengan
bayaran yang cukup tinggi untuk membunuh mental-mental yang lemah. Jari-jari
yang lemah gemulai menari dalam papan alfabet membentuk kata perkata perusak
kedamaian yang bisa membunuh tanpa menyentuh namun berdampak racun dalam
pikiran. Semua sudah ada peristiwanya, semua sudah terpampang nyata didepan mat
akita akan hal yang dapat merusak mental seseorang. Tinggal bagaiman kita mau
bersikap dan bagaiamana kita mempersiapkan diri sendiri.