Minggu, 28 Maret 2021

Picik Tingkah Manusia

Ada banyak kejadian yang dirasakan yang akhirnya memberikan pelajaran untuk mengingat sebuah kesalahan. Ketika seseorang ditanya kenapa bisa seperti itu? Sebagian besar orang akan menyalahkan orang lain dan faktor lain tanpa melihat koreksi di diri sendiri. Lebih mudah memang untuk menyalahkan faktor eksternal daripada menyalahkan faktor internal diri sendiri. Justru yang ada membenarkan apa yang salah dalam diri untuk mencari kesalahan dalam orang lain. Tabiat manusia memang tak mau mengakui kesalahan dan justru memutarkan kesalahan. Cukup besar memang ketika seseorang mengemban sebuah tanggung jawab, tapi yang paling penting seberapa sadarkah kita dengan tanggung jawab dan apa yang kita berikan untuk tanggung jawab. Tanggung jawab ketika berhasil membanggakan diri sendiri membesarkan ego sendiri tapi kenapa ketika tanggung jawab luput dan salah justru menyalahkan orang lain. Kenapa tidak dibalik saja kasusnya, ketika semua berhasil semuanya dari orang lain tetapi ketika salah ya harus membesarkan ego dan menyalahkan diri sendiri. Lebih fair untuk mengakui kesalahan dibandingkan membanggakan sesuatu yang belum tentu itu memang dari tanggung jawabmu. Lebih terhormat orang yag mengakui memang salah dalam tanggung jawab dibandingkan menyalahkan orang lain padahal itu tanggung jawab diri sendiri. Picik memang hati dan nurani seseorang menganggap diri selalu luar biasa tapi lemah ketika semua tak sejalan dengan logika.

Senin, 01 Maret 2021

DEDIKASI PADA DIRI SENDIRI

Boleh gak seh mendedikasikan sisa waktu untuk berada terus disebuah instansi? Dampaknya baik gak ya buat perkembangan kemampuan seseorang? Bisa berkembang dan melihat hal lain yang lebih besar diluar sana gak ya? Bukannya akan menjadi hal yang monoton mengerjakan sesuatu hanya seperti itu saja? 

Belum tau juga seh, soalnya sampai saat ini pun aku juga masih mendedikasikan hidupku pada suatu instansi. Menggelontorkan waktuku hampir semuanya kedalam implementasi suatu instansi. Terpikir memang untuk mencoba berdedikasi pada diri sendiri, mengimplementasikan mimpi yang selama ini diharapkan menjadi sebuah action yang dinantikan. Menurut pandangan gua pribadi sebenernya lebih setuju dengan pengembangan dedikasi diri sendiri. Disitu kita bisa menghargai waktu sendiri, melihat banyaknya hal besar yang lebih jauh dan pastinya mampu mengimplementasikan mimpi yang selama ini diharapkan. Mungkin hanya pemikiran kosong gua juga seh yang tersirat tanpa menganalisa lebih jauh dan detail. Tapi memang pikiran-pikiran seperti ini rasanya membuat diri tergugah dan tersadar apa sebenarnya yang ingin dikejar. Lebih memilih menjadikan diri sendiri ini mau menjadi seperti apa dengan sebuah kebebasan waktu. Sulit memang banyak hal yang harus dipertimbangkan terutama untuk menjalani sebuah kehidupan. Ada beberapa hal yang harus dikalahkan dan ego yang harus dihentikan terlebih dahulu untuk mengubur harapan sementara. Ya setidaknya pikiran gua gak berhenti begitu saja, harus berani menggali impian lagi demi menemukan dedikasi untuk diri. Menjadikan semua hal yang dirasa tak mungkin menjadi mungkin karena implementasi. Gak ada yang salah berada di zona ternyaman seseorang, menjadikan tenang maybe, menjadikan nyaman maybe pandangan dan sudut yang berbeda dari seseorang. Tapi yang paling penting menurut gua, coba berpikir lagi untuk mendedikasikan waktu untuk diri sendiri, maybe akan menemukan kenyamanan yang lain. Kenyamanan yang selama ini belum pernah ditemukan dengan banyak waktu yang dimiliki untuk apresiasi diri. Tak terikat dalam sebuah detikan waktu, lebih bebas mengembangkan diri dengan banyaknya waktu. Ingat bebas bukan berarti malas ketika memang sudah memutuskan ya harus benar-benar yakin menjalankan. Ini yang harus dikerjakan bukan muak dengan semua persoalan.

Memoles Kepribadian di Balik Akun Social Media

“Memoles Kepribadian di Balik Akun Social Media” Fenomena perkembangan teknologi modern yang berkembang pesat dan tidak bisa dibendung arah ...