Selasa, 28 Desember 2021

Memoles Kepribadian di Balik Akun Social Media

“Memoles Kepribadian di Balik Akun Social Media”

Fenomena perkembangan teknologi modern yang berkembang pesat dan tidak bisa dibendung arah pergerakannya membuat seseorang yang belum siap akan pertumbuhan menjadi mentah dalam mencerna teknologi. Teknologi memudahkan seseorang untuk berkembang dalam menjalankan pola hidup yang sebelumnya atau lebih tepatnya cara baru yang belum pernah dilakukan. Seseorang lebih mudah mendapatkan informasi dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemudahan kehidupan sehari-hari. Teknologi memang membantu seseorang dalam mengerjakan segala macam hal, akan tetapi sudah benarkah pola penggunaan teknologi tersebut. Tidak semua orang mampu memanfaatkan teknologi sesuai dengan kegunaan dan kemanfaatannya. Nahhh ini dia yang gw maksud mentah dalam mencerna perkembangan teknologi, dari mental dan pengetahuan seseorang belum siap dengan pemanfaatannya. Efek yang diberikan dari mentahnya mencerna perkembangan teknologi bisa merubah pola pikir dan karakter seseorang lohh. Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang gw alamin aja sesuai dengan kejadian yang terjadi di kehidupan gw sehari-hari.

Generasi terupgrade abad ini (entah Namanya apa) memanfaatkan teknologi untuk berbagai macam hal yang sebelumnya tidak pernah terprediksi (jaya jaya jaya heee). Pemanfaatan teknologi pada Generasi X lebih ke arah Social Media untuk upgrade informasi terbaru dan tren model terbaru. social media pada Generasi X dimanfaatkan sebagai wadah untuk penyalur bakat, mencari pendapatan, mencari ketenaran, menjadi pembunuh bayaran kolom komentar heee (bercanda) ya pokoknya masih banyak hal lain yang dimanfaatkan dari media tersebut. Kalau dilihat dari manfaatnya sendiri sebenarnya social media lebih ke arah positif atau negative ya? (Ya tergantung kita sendiri memanfaatkannya seperti apa). Salah dalam penggunaan bisa jadi toxic buat diri juga atau bahkan buat orang lain juga, makanya kenapa gw tadi bilang pembunuh kolom komentar heee.

Pembahasan yang cukup menarik menurut gw pribadi terkait pola kepribadian seseorang dari perkembangan teknologi terutama dilihat dari social media. Pola pikir seseorang dengan sangat mudah kita nilai dan kenali dari berbagai macam hal yang mereka unggah untuk dilihat publik. Apalagi orang-orang yang update diri mereka tanpa berpikir dua kali dari sudut pandang orang lain respon seperti apa, resiko buat diri sendiri, bahkan kejahatan dari orang lain bisa juga memanfaatkan itu. Amit-amit sebenernya kalau hal-hal itu terjadi (tapi gw sendiri pernah alami itu) tangan-tangan tak bertanggung jawab merusak akun orang lain. Tapi yang gw bahas sekarang lebih ke arah seseorang yang menurut gw munurun tingkat kepercayaan diri di social media. Lohhh kok bisa??? Bukannya social media mereka mengunggah hal-hal terbaik buat dijadikan momen baik mereka?. Nah justru itu yang jadi problem menurut gw heee, jadi pertanyaan juga sebenernya apa betul seperti itu.

Social media digunakan seseorang sejauh ini yang gw lihat hanya dijadikan alat untuk memoles kepribadian seseorang. Orang lain bisa melihat keseharian dan kepribadian kita dari apa yang kita sajikan. Apalagi di Negara kita tercinta ini, orang masih gila akan sanjungan, pengakuan, dan bahkan jadi panutan. Orang berbondong-bondong membranding diri sendiri untuk kelihatan perfect dihadapan semua orang. Membungkus kebusukan dalam wadah bertabur emas permata untuk melihat cover luar yang mewah. Pada akhirnya ini yang merubah pola pikir seseorang dalam menyikapi adanya perkembangan teknologi. Orang tidak percaya diri Ketika lagi jatuh, orang ingin selalu dilihat dirinya berada di atas, Ketika diatas orang ingin lebih tinggi lagi, dan yang paling parah lagi menjadikan orang lain menjadi tolak ukur buat diri sendiri. Kalau stadiumnya udah memakai tolak ukur udah stadium akhir yang harus diobati dan dibasmi deh. Padahal tingkat hidup seseorang berbeda-beda dan tolak ukur diri tergantung dirinya, kalau jadi acuan baik buat bisa seperti itu ok saja tapi kalau buat mengkelompok-kelompokkan berdasarkan acuan nah itu yang udah menyimpang.

Fenomena memoles kepribadian di social media sudah tidak asing lagi, kita sebenernya bisa lebih mudah buat tau hal itu. Akan tetapi kita sendiripun akan lebih kesulitan untuk menilai seseornag yang baru kita kenal. Seperti yang gw bilang tadi di dalam busuk tetapi di cover emas permata heee cantik diluar tapi racun didalam. Kenapa seseorang tidak percaya diri dengan diri sendiri ya? Bukannya setiap orang diberikan kelebihan yang bisa mereka eksplore masing-masing. Ohh mungkin mereka melihat seseorang dengan mudah mendapatkan sesuatu, bisa juga menjadikan orang lain tolak ukur patokan sukses seperti itu atau ada banyak hal lain lagi. Banyak ternyata faktor yang bisa disebabkan dari hal tersebut, sehingga mereka tidak bisa menjadi percaya diri dengan diri sendiri. Pada akhirnya mereka memoles diri dengan kepalsuan, kebohongan, dan kerendahahan moral untuk mendapatkan respect dari orang lain. Merasa malu Ketika gagal, tidak berkembang, tidak bisa mencapai seperti orang lain (ya faktor tolak ukur tadi), akhirnya membohongi diri demi apresiasi dari orang lain. Turunnya tingkat kepercayaan diri seseorang ini muncul Ketika dirinya sendiri tidak bisa kontrol apa yang ada dalam diri. Jika hal ini terjadi bergulir dan menggulung maka krisis akan mental seseorang menjadi lemah dan mudah untuk terombang-ambing.

Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman yang gw rasain sendiri bukan menyinggung siapapun hanya keresahaan yang gw rasa saja. Menurut gw ini hal yang penting banget buat generasi muda terutama, biar bisa dijadikan pembelajaran dengan menyikapi perkembangan teknologi. Jangan sampai justru menjadi ranjau buat kita yang bisa buat kemunduran moral, penurunan kepercayaan diri dan perubahan pola pikir yang negatif. Bahaya sekali jika ini terjadi untuk generasi penerus, sekarang saja kalau kita lihat gampang sekali orang di adu domba kubu A kubu B. Pembunuh kolom komentar dengan bayaran yang cukup tinggi untuk membunuh mental-mental yang lemah. Jari-jari yang lemah gemulai menari dalam papan alfabet membentuk kata perkata perusak kedamaian yang bisa membunuh tanpa menyentuh namun berdampak racun dalam pikiran. Semua sudah ada peristiwanya, semua sudah terpampang nyata didepan mat akita akan hal yang dapat merusak mental seseorang. Tinggal bagaiman kita mau bersikap dan bagaiamana kita mempersiapkan diri sendiri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memoles Kepribadian di Balik Akun Social Media

“Memoles Kepribadian di Balik Akun Social Media” Fenomena perkembangan teknologi modern yang berkembang pesat dan tidak bisa dibendung arah ...